Laga leg pertama babak perempat final Liga Champions yang mempertemukan tuan rumah Barcelona kontra Paris Saint Germain menegaskan kebintangan Killian Mbappe yang mampu melampaui superstar Barcelona, Lionel Messi. ‘Magic Mbappe’ benar-benar bertuah, dengan mencetak hatrrick di Camp Nou, sekaligus membenamkan armada binaan Ronald Koeman dengan skor akhir 4-1.
Benar-benar gambaran seorang pemain masa depan yang sudah siap memutus mata rantai kebintangan para pendahulu seperti Lionel Messi yang telah memasuki era veteran.
Sejatinya, PSG tidak tampil dengan skuad terbaiknya saat melawat ke kandang Barcelona. Mereka kehilangan Angel Di Maria dan Neymar yang mengalamo cedera. Kondisi ini sempat menghidupkan asa Barcelona untuk memanfaatkan kesempatan dan memenangi laga dengan lebih mudah.
Namun yang terjadi justru diluar dugaan. Ketidakhadiran para pemain kunci PSG justru menghidupkan peran sentral Mbappe sebagai penyerang bayangan sekaligus pemimpin Les Perisiesn.
Pemain berusia 22 tahun ini benar-benar menjadi hantu bagi pertahanan Barcelona, hadir tiba-tiba di ruang-ruang kosong, membombardir pertahana lawan dengan dribel dan gocekan maut sekaligus mencetak 3 gol yang menenggelamkan nama besar Barcelona.
Hari itu, Mbappe terlihat sedang menuliskan sebuah sejarah tentang kebintangannya, menutup semua ruang terbuka yang ditinggalkan Di Maria dan Neymar serta melampaui kepemimpinan Messi di Barcelona.
PSG benar-benar tanpa tanpa beban, berkat kepemimpinan Mbappe yang selalu tenang, ceria, cerdas dan atletis dalam setiap penampilannya.
Ini adalah sebuah bentuk penegasan, tentang datangnya era Mbappe yang sudah siap merajai panggung sepakbola selanjutnya.
Sementara bagi Barcelona, kekalahan ini memperlihatkan jalan pembangunan tim pasca ditinggalkan sejumlah bintang-bintang terdahulu seperti Luis Suarez dan Andreas Iniesta masihlah panjang.
Laga melawan PSG menyiratkan kebintangan Messi meredup dan tidak bisa diimbangi teman-teman dalam tim.
Bagi banyak klub super Eropa, babak sistem gugur Liga Champions adalah ritual awal pembaruan musim semi.
Ini adalah kesempatan untuk melupakan rentetan hasil buruk di liga domestik dan menyambut hasil baik dengan prestasi di ajang eropa. Hal ini juga turut dialami Barcelona maupun PSG.
Khusus PSG, musim ini benar-benar harus bekewrja keras membangun tim. Mereka menampung Moise Kean dan Idrisa Gueye dari Everton,Keylor Navas yang kehilangan pekerjaan setelah dicampakkan Real Madrid, Florenzi yang jasanya sudah tak lagi digunakan AS Roma serta Kurzawa yang dalam 5 tahun terakhir jarang dimainkan.
Akhir cerita, Mbappe memang layak untuk menjadi tajuk utama dari kisah pembantaian Barcelona oleh PSG di rumahnya sendiri. Rangkaian aksinya memancing Roenald Koeman mengoceh pada lini belakang Barcelona.
Ia pintar membuka ruang, dia cepat dalam duel satu lawan satu dengan pemain lawan, dan dia bisa hadir kapan saja untuk memanfaatkan semua kemelut yang terjadi dalam kotak finalti lawan.
Apakah ini pertanda awal dari era dominasi Mbappe untuk menghentikan nama-nama besar seperti Lionel Messi?. Bagaimana pendapat para pembaca sekalian. Tuliskan komentar anda. (artsport/ espn.com)









0 Comments:
Posting Komentar